Senin, 09 Februari 2009

Bintang TI Dunia dari Tanah Hindustan

Berawal dari sebuah divisi yang hanya melayani kebutuhan internal grup usahanya, Tata Consultancy Services tumbuh menjadi pemain kelas dunia di bisnis solusi TI – khususnya jasa outsourcing TI. Bagaimana ia bisa meraksasa?

Ratan Tata memang pebisnis luar biasa. Apa yang dibangunnya bisa berkembang hebat dan ekspansif. Mirip hikayat Raja Midas. Bidang yang dimasukinya pun tak sembarangan, umumnya berteknologi tinggi dan padat modal. Bisnis otomotif yang dimasukinya lewat Tata Motors kini telah membesar, bahkan baru-baru ini mengambil alih dua merek mobil mewah – Jaguar dan Range Rover – dari tangan Ford Motor. Setali tiga uang dengan bisnis baja yang ditekuninya lewat Tata Steel, yang juga baru saja menyelesaikan proses akuisisi pabrik baja asal Belanda, Corus, dengan nilai US$ 11,3 miliar. Dan tentu saja, salah satu itik emasnya yang patut disebut adalah Tata Consultancy Services Ltd. (TCS), perusahaan yang bergerak di jasa konsultan dan alih daya (outsourcing) berbasis teknologi informasi (TI), yang sejauh ini juga agresif. Dengan keberhasilan perusahaan-perusahaannya itu, wajarlah Ratan Tata disebut sebagai ikon penting industri India. Bahkan, Ratan Tata – bersama beberapa nama besar lainnya asal negeri ini, seperti Lakhsmi Mittal dan Azim Prenji – merupakan bagian dari konglomerat India berkelas dunia.

Kerajaan bisnis Tata Group memang beragam. Mulai dari telekomunikasi, jasa keuangan, keteknikan dan material, manufaktur, kimia, otomotif, dan TI. Namun, harus diakui, namanya makin melambung berkat prestasi gemilangnya di arena bisnis berbau TI lewat TCS – meskipun dari ukuran bisnisnya masih kalah dibandingkan dengan beberapa bidang bisnis lainnya. Maklum saja, di jagat bisnis dunia, India memang identik dengan software shop-nya yang hebat lagi kompetitif. Dan, bicara software house di negeri ini, orang tak mungkin melupakan nama TCS. Sebab, dialah pemain terbesarnya. Dalam daftar the Asia BusinessWeek 50 yang dikeluarkan September 2007, TCS bahkan satu-satunya tech player yang mampu menerobos.

Sejarah TCS dimulai pada 1968. Kala didirikan, namanya masih Tata Computer Centre (TCC), sebagai sebuah divisi dari Tata Group. Bisnisnya menyediakan layanan komputerisasi buat perusahaan lainnya dalam kelompok usaha ini. Fakir Chand Kohli, insinyur elektro dari Tata Electric Companies direkrut untuk menjadi komandan pertamanya (dengan jabatan General Manager). Tak lama setelah itu, TCC dioperasikan layaknya sebuah perusahaan, dan namanya pun diubah menjadi TCS.

Proyek ekspor software pertama TCS dilakukan pada 1974 berupa software sistem informasi rumah sakit berbasis COBOL. Pada 1980, TCS bersama satu perusahaan TI lainnya di bawah Tata Group tercatat menguasai 63% pangsa pasar ekspor software India yang sebesar US$ 4 juta. Pada 1984, TCS pun mendirikan kantor perwakilan di Santacruz Export Processing Zone, Mumbai.

Awal 1990-an merupakan masa perkembangan pesat TCS. Tak mengherankan, saat itu perusahaan yang berkantor pusat di gedung bernama TCS House di Raveline Street, Mumbai ini merekrut banyak karyawan baru. Di akhir 1990-an, guna melesatkan pertumbuhan revenue-nya, TCS memancangkan tiga strategi: mengembangkan produk (software) baru yang punya potensi pendapatan tinggi; menggarap pasar domestik dan pasar lainnya yang tumbuh pesat; dan fokus pada pertumbuhan in-organic dengan cara akuisisi perusahaan lain.

Di akhir 1990-an itu pula TCS seperti ketiban rezeki dengan banyaknya pekerjaan yang menyangkut pengembangan e-business, proyek konversi sistem terkait dengan hadirnya mata uang Euro, dan penanganan masalah Y2K. Tahun 2004, TCS mencatatkan diri di National Stock Exchange India dan Bombay Stock Exchange.

Kini, TCS sudah dikenal sebagai salah satu penyedia jasa TI dan alih daya proses bisnis terbesar di dunia. Di pasar outsourcing dunia, TCS mampu bersaing dengan para jagoan alih daya lainnya seperti EDS dan Raksasa Biru IBM. Tahun 2007 TCS tercatat sebagai perusahaan TI terbesar di Asia, yang diperkuat oleh lebih dari 111 ribu karyawan, yang bekerja di 47 negara. Dalam daftar the Info Tech 100 BusinessWeek yang baru dikeluarkan (30 Juni 2008), TCS duduk di peringkat 12. Di antara 100 nama di daftar tersebut, TCS disebut sebagai perusahaan teknologi paling menguntungkan ketiga (dengan return on equity 70,5%) di bawah Nextel Partners dan Western Wireless; tapi di atas nama beken seperti Dell, BT Group dan Accenture. Dan, berdasarkan tahun fiskalnya yang berakhir pada 31 Maret 2008, secara konsolidatif revenue TCS tercatat sebesar US$ 5,7 miliar.

Obsesinya untuk menjadi pemain TI dunia diwujudkan dengan kehadirannya di berbagai negara. Saat ini, selain memiliki beberapa kantor cabang di India, TCS juga mempunyai kantor/unit perwakilan di Afrika, Asia, Australia, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Selatan. Cara-cara agresif juga ditunjukkan TCS. Misalnya, pada 2006, ia mengakuisisi Chile's Comicrom S.A.; Australia's Financial Network Services (Holdings) Pty. Ltd.; dan Sweden's Indian IT Resource AB. Selain itu, TCS membentuk pula anak usaha lainnya, yakni: TCN FNS Pty. Ltd. di Australia; Diligenta Ltd. di Inggris; Portugal Unipessoal Limitada di Portugal; TCS Luxemburg S.A. di Luksemburg; dan TCS Chile Ltd. di Cile. Jumlah anak usaha TCS diperkirakan lebih dari 50 perusahaan.

Yang tak kalah penting, TCS juga mengembangkan banyak lab inovasi, yang kebanyakan berlokasi di India (yakni di Delhi, Hyderabad, Mumbai dan Chenai), serta beberapa negara lain (seperti di Burbank, Kalifornia, Amerika Serikat, dan Peterborough, Inggris). Masing-masing lab punya tugas spesifik mengembangkan teknologi tertentu. Misalnya, lab di Delhi mengembangkan emerging technology seperti arsitektur software dan Software as a Service (SaaS). Lalu, di Chenai ada lab khusus yang mengembangkan aplikasi terkait dengan bisnis asuransi. Dan, lab di Burbank mengembangkan aplikasi yang terkait dengan media dan entertainment, seperti digital media distribution dan digital asset management, serta contract & rights management system. Menariknya, lewat ke-11 labnya yang ada saat ini, beberapa teknologi hot diriset pula oleh mereka. Sebut saja 3G, WiMax, RFID, green computing dan Web 2.0. Untuk melengkapi jaringan TCS Innovation Labs itu, didirikan pula Tata Research Development & Design Centre di Pune, India, dengan fokus utama pada riset dan pengembangan masalah software engineering dan process engineering.

Globalisasi ekonomi memang telah membuat perusahaan TI dari India seperti TCS, Infosys dan Wipro ikut berkembang dengan menawarkan jasa alih daya, khususnya dalam urusan back office (seperti SDM, akunting dan general affairs). Alasan perkembangan ini adalah jargon untuk fokus pada bisnis inti, dan mencapai efisiensi proses bisnis. Dan, India serta-merta menjadi outsourcing hub favorit. Selain karena kemampuan teknis orang-orang TI dari negeri ini (tak sedikit yang belajar dan berkarier dulu di AS), juga karena hampir tak ada kendala dalam bahasa Inggris. Namun, tantangan dari negara lain pun berdatangan, seperti dari Cina, Maroko, Meksiko, Eropa Timur dan Filipina. Untuk menyiasatinya, pemain besar asal India di bisnis alih daya seperti TCS, Infosys dan Wipro membuka kantor sekaligus merekrut karyawan di negara-negara berkembang, sebelum pesaing dan para klien melakukannya. gSekarang ini, outsourcing adalah mengambil pekerjaan dari salah satu bagian di dunia, dan mengerjakannya di bagian dunia yang lain,h kata Ashok Vemuri, VP Senior Infosys, mencoba mendefinisikan bisnis ini.

Praktiknya memang menarik disimak. Pada Mei 2007, TCS membuka fasilitas back office baru di Guadalajara, Meksiko. Sebelumnya, TCS sudah memiliki sekitar 5 ribu karyawan di Brasil, Cile dan Uruguay. Infosys membuka kantor back office-nya di Meksiko, Ceko, Thailand dan Cina. Adapun Wipro gbuka warungh di Kanada, Cina, Portugal, Rumania dan Arab Saudi. Inilah alih daya gaya baru – yang sering diistilahkan global sourcing. Misalnya, sebuah perusahaan di AS mengorder jasa back office ke perusahaan TI asal India yang jaraknya 7 ribu mil dari kantor di AS itu. Lalu, vendor India ini melemparkannya ke para programmer/insinyurnya di Meksiko yang akan menggarapnya di lokasi yang hanya berjarak 150 mil di sebelah selatan perbatasan AS.

gIndia masih merupakan lokasi outsourcing nomor satu,h ujar Gopalakhrisnan, CEO Infosys. Rasanya tak berlebihan. Data pada 2005 (yang diambil dari klaim organisasi perdagangan tiap negara), ekspor software dan jasa TI India sebesar US$ 17,7 miliar – jauh di atas Cina yang (US$ 3,6 miliar) ataupun Rusia (US$ 1 miliar). Bahkan, untuk tahun fiskal 2008, seperti terungkap dalam Strategic Review 2008 yang dikeluarkan National Association of Software and Service Companies, India mengklaim ekspor software dan jasa TI negeri ini bisa menyentuh angka US$ 40 miliar!

Di tengah persaingan yang ketat memperebutkan pasar software dan jasa TI dunia, pemain-pemain besar asal India rupanya memang tak pernah tinggal diam. Begitu pula TCS. Ia bukan hanya menghadirkan produk dan jasa teknologi baru, melainkan terus pula mengembangkan sistem kerja internal dan sistem pelayanan ke pelanggan yang benar-benar bisa diandalkan. Langkah cukup signifikannya dimulai pada akhir 2003. Ketika itu, S. Ramadorai, CEO TCS, melontarkan gagasan yang seolah-olah sederhana, tapi sebenarnya merupakan langkah ambisius bagi perusahaan yang berbasis di Mumbai ini, yakni: mengembangkan dan memperbaiki proses komunikasi dan kolaborasi di antara pegawainya. Lebih tegasnya, sang bos ini menginginkan adanya proses kolaborasi dan berbagi informasi di antara karyawan secara real time – kendati zona waktu di antara mereka berbeda, mereka pun punya budaya yang tak sama – dengan klien yang datang dari beragam industri. Terang saja, ini bukan proyek sepele, karena saat itu TCS sudah memiliki pegawai hampir 80 ribu yang tersebar di 35 negara.

K. Ananth Krishnan, Chief Technology Officer TCS mengakui beratnya tugas ini meskipun didukung penuh oleh sang CEO. gTantangan terbesar bagi saya adalah menunjukkan kepada para kolega bisnis saya apa manfaat keseluruhan dari proyek ini,h katanya. Apalagi, meskipun proyek ini dimulai awal 2004, paling cepat hasilnya baru bisa terasa pada pertengahan 2005. gSaya harus bisa membangun keyakinan dari para eksekutif senior itu, dan saya harus bisa menjualnya dengan mempertaruhkan reputasi saya pribadi,h Krishnan berujar.

Project Infinity, demikian nama inisiatif yang akhirnya dikembangkan ini, memanfaatkan beragam teknologi, seperti tool kolaborasi Sametime, QuickPlace dan Lotus Domino dari IBM. Toh, komponen kuncinya adalah jaringan telefoni Voice over Internet Protocol (VoIP) yang dibangun oleh Avaya Inc. Jaringan VoIP inilah yang berfungsi sebagai backbone kolaborasi. gDengannya, para petugas ahli dari TCS yang tengah melayani pelanggan masing-masing di berbagai industri bisa saling berbagi dan menggunakan ulang common code-nya,h kata Khrisnan. Dan, lantaran mendukung fasilitas videokonferensi, jaringan VoIP ini bisa pula menghemat biaya perjalanan dinas (yang berdasarkan praktik rata-rata hingga 40%) dan telepon (hingga 60%).

Agar pemanfaatan jaringan VoIP (termasuk penggunaan IP phone atau pesawat telepon berbasis IP) ini optimal, para eksekutif penting yang terlibat dalam proyek ini melakukan kampanye pemasaran bersama. Tujuannya tak lain menjelaskan bahwa penggunaan telepon baru ini lebih mudah, cepat dan murah dibanding menggunakan telepon konvensional. TCS bahkan mengadakan kontes user of the month, yakni mencari karyawan yang paling lama menggunakan IP phone dalam periode tertentu. Yang jelas, berkat sistem kolaborasi dan komunikasi berbasis VoIP ini, TCS dihargai sebagai salah satu perusahaan terbaik dalam menggunakan TI oleh ComputerWorld (ComputerWorld's Best in Class 2007).

Bagaimana untuk pelanggan? Untuk hal ini, TCS malah mengembangkan model pengiriman (delivery) jasa dan solusi yang terbilang unik, yang disebut Global Network Delivery Model (GNDM) – yang telah dipatenkan. Model yang dikembangkan TCS ini punya komponen tersendiri (lihat: Boks). Namun, dalam hemat John McCarthy, Direktur Forrester Research Group, global delivery model pada dasarnya berarti provider yang bersangkutan memiliki banyak lokasi yang bisa saling berkoordinasi untuk dapat mengirim solusi yang paling rendah biayanya (low cost solution) bagi pelanggan.

Yang jelas, berkat konsep pengiriman ini, TCS mengklaim lebih dari 95% pelanggannya mengakui keandalan dan kemampuan TCS melayani kebutuhan TI mereka. Menurut klaim eksekutif senior TCS, seperti terungkap dalam press release di situsnya, dengan metode yang telah teruji sekarang ini mereka bisa mencapai tingkat kepuasan pelanggan sebesar 89% dari segi ekspektasi kualitas, dan rata-rata perbedaan anggaran hanya 3% dari rencana anggaran – kedua angka ini jauh lebih baik dibandingkan dengan standar industri.

Dengan GNDM, TCS menjamin para kliennya bisa memilih strategi alih daya yang paling sesuai dengan aspek bisnis mereka yang paling penting. Misalnya, apakah strateginya untuk optimasi biaya, penyatuan budaya, ataukah mitigasi risiko. Pihak TCS pun menjamin kualitas pengiriman jasa dan solusinya, tak peduli apa layanan dan pilihan teknologinya ataupun di mana lokasi si pelanggan.

Banyak orang menduga, lesunya ekonomi global akan turut menyusutkan bisnis para vendor jasa TI. Toh, menurut Peter Brudenall – pakar global alih daya dari Hunton & Williams yang berkantor di London – situasi ini tak banyak berpengaruh bagi vendor jasa TI dari India. Buktinya, para vendor TI terkemuka dari Tanah Hindustan ini mampu mencapai pertumbuhan laba 21% selama kuartal pertama 2008. gApalagi, sekarang ini outsourcing dipandang lebih strategis,h katanya.

Brudenall pun melihat pemain alih daya utama dari India tak perlu khawatir dengan para pesaing baru dari negara lain. Alasannya, menurut Brudenall, dalam kondisi ekonomi yang tak kondusif untuk mengambil risiko, kalangan perusahaan global akan cenderung memilih pemain yang lebih berpengalaman dan teruji ketimbang pemain baru yang belum diketahui rekam jejaknya.

Nah, kalau perhitungan Brudenall tak meleset, pemain seperti TCS tentu masih bisa tersenyum lebar.


Riset: Arya Eko Nugroho.



BOKS 1:

Sekilas
Tata Consultancy Services Ltd.

= Didirikan : Tahun 1968.
= Markas : TCS House, Raveline Street, Mumbai, India.
= Industri : Solusi dan jasa teknologi informasi.
= Tokoh kunci :
Ratan Tata (Chairman of the Board Tata Group).
S. Ramadorai (CEO & Direktur Pengelola).
= Revenue : US$ 5,7 miliar (tahun fiskal 2007-2008).
= Jumlah pegawai : 111 ribu orang.
= Cabang : di 47 negara.
= Website : www.tcs.com.


BOKS 2:

Tiga Komponen Terpadu
The Global Network Delivery Model


Global Workforce

= Dilengkapi dengan manajemen talenta yang efektif dan skalabel, mulai
dari rekrutmen, staffing, pelatihan, hingga retensi karyawan.

Integrated Processes

= Menerapkan standar proses kualitas CMMI Level 5.
= Menerapkan prosedur keamanan kelas dunia.
= Memanfaatkan tool dan proses manajemen proyek (iQMS, dan
sebagainya).

Multitiered Infrastructure

= Dengan jaringan pusat pengembangan global yang ada di multibenua
tapi saling terhubung.
= Dilengkapi jaringan telekomunikasi yang tangguh dan canggih.
= Tersedia tool kolaborasi global.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar